Dalil-Dalil Reinkarnasi
Pendapat Achmad Chodjim tentang Reinkarnasi :
Umat Islam merasa bahwa reinkarnasi itu tidak diajarkan dalam Islam. Bahkan
pandangan tentang reinkarnasi dianggap bid’ah. Atau, pandangan sesat. Hal ini dapat dimengerti, karena reinkarnasi
tidak dijelaskan secara eksplisit di dalam Alquran. Untuk dapat memahaminya
kita harus benar-benar serius dalam menelaah ayat-ayat Alquran maupun Hadis.
Mengapa reinkarnasi di dalam Alquran tidak dijelaskan secara eksplisit dalam satu topik tersendiri?
Karena, Alquran diwahyukan kepada Nabi sesuai dengan budaya Arab yang ada
pada waktu itu. Dalam budaya Arab, kehidupan di akhirat saja diangap aneh.
Kalau toh ada orang-orang Quraisy yang menerima pandangan tentang akhirat,
sebenarnya itu merupakan pengaruh agama Yahudi, Nasrani dan Majusi.
Apa pandangan asli Arab tentang hidup sesudah mati? Tidak ada! Orang Arab pra-Islam berpandangan bahwa hidup ini hanya sekali saja. Hal ini direkam di beberapa ayat Alquran. Marilah kita baca dengan seksama rekaman Alquran terhadap kepercayaan orang-orang Arab pra-Islam.
6:29 - Dan, tentu mereka akan mengatakan: Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.
23: 35-37 - Apakah dia menjanjikan kepada kamu sekalian bahwa bila kamu telah mati, telah menjadi tanah dan tulang-belulang, kamu akan dikeluarkan? Jauh, jauh sekali (dari kebenaran), apa yang diancamkan kepadamu. Kehidupan kita itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup, dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.
34:7 - Dan orang-orang kafir berkata: Maukah kamu kami tunjukkan seorang lelaki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur, sesungguhnya kamu benar-benar akan dibangkitkan dalam ciptaan baru?
44:35 - Tidak ada kematian selain kematian kami yang pertama.
Dan kami sekali-kali tidak dibangkitkan.
Ayat-ayat tersebut sudah jelas menggambarkan kepercayaan yang ada pada masyarakat
Arab. Mereka itu tidak percaya bahwa kehidupan itu tidak berakhir dengan kematian.
Mereka meyakini bahwa kehidupan ini sekali saja, dan kematian merupakan akhir
bagi segalanya. Makanya, mereka itu hedonistis. Mereka itu hanya berusaha
mencari kesenangan duniawi semata. Mereka tidak peduli bahwa kesenangan yang
diusahakan itu merugikan orang lain atau tidak. Mereka kaget luar biasa ketika
Nabi Muhammad mengajarkan tentang kehidupan setelah kematian. Baru dinyatakan
ada kehidupan baru sebagai ciptaan baru setelah mati, mereka itu sudah menolak.
Apalagi kalau mereka itu dijelaskan secara gamblang bahwa kehidupan itu bisa
berlanjut berkali-kali, mungkin nggak percayanya itu kuadrat.
Reinkarnasi itu ayat mutasyabihat. Ya, kelahiran kembali itu diungkapkan
dalam Alquran secara tersamar. Ayat-ayatnya harus dipikirkan dan direnungkan
dalam-dalam. Kalau tidak dipikirkan masak-masak, pasti akan terjerumus pada
penerjemahan atau penafsiran yang menyimpang. Ayatnya tidak disampaikan secara
berurutan atau sering diselipkan di berbagai topik kehidupan. Makanya, kalau
kita tidak jeli membacanya akan kecele.
16:70 - Allah menciptakan kamu. Kemudian, Allah mewafatkan
kamu (mengakhiri hidupmu di bumi ini), dan di antara kamu ada yang dikembalikan
pada umur yang paling lemah, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang
pernah diketahuinya. Sesunggunya Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.
16:77 - Dan kepunyaan Allahlah segala yang gaib di langit maupun di bumi. Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih cepat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
16:78 - Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan
tidak mengetahui sesuatu pun. Dan, Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan fuad agar kamu dapat bersyukur.
tidak mengetahui sesuatu pun. Dan, Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan fuad agar kamu dapat bersyukur.
Pertama, pada umumnya orang yang hidup di bumi ini berakhir dengan kematian. Tentu saja, ada yang benar-benar telah wafat, alias telah sempurna hidupnya, sehingga tidak dilahirkan kembali di bumi ini. Tapi, kebanyakan manusia itu dilahirkan kembali. Dalam bahasa ayat di atas dinyatakan sebagai dikembalikan pada umur yang paling lemah.
Umumnya, kalimat ardzal al-umur pada ayat tersebut diartikan tua-renta.
Sedangkan kalimat tidak mengetahui sesuatu pun yang pernah diketahuinya diartikan
dengan pikun atau pelupa karena sudah tua sekali. Penerjemah biasanya tidak
memahami bahasa Indonesia dengan benar. Mereka tidak menyadari bahwa tua-renta itu
belum tentu lemah. Banyak orang di Indonesia ini yang umurnya sudah 80 tahun masih
tampak lebih segar daripada yang berumur 40 tahun. Beberapa negarawan kita
sudah berumur lebih dari 80 tahun, tapi masih berbicara tentang politik dan
situasi negara kita dewasa ini secara kritis.
Maka, jelas kalimat dikembalikan pada umur yang paling lemah itu tidak
berarti tua-renta atau lanjut usia. Kedua, kalimat tidak mengetahui sesuatu pun
apa yang pernah diketahui sebelumnya diartikan dengan pikun. Ini salah besar!
Orang pikun itu pelupa. Mudah lupa terhadap apa yang diketahui atau
dikerjakannya. Tapi, pikun itu masih ada yang diingat. Bukan tidak ingat sama
sekali apa yang pernah diketahui, atau lost memory. Dan, pikun itu sifat yang
ada pada orang tua yang telah lanjut usia di mana saja. Namun, tidak setiap orang
yang lanjut usia itu pikun. Jadi, tidak mungkin bangsa Arab tidak punya khazanah
untuk kata pikun. Dalam bahasa Arab, pikun itu mukharraf. Jadi, kondisi tua-renta
dan pikun itu tidak merupakan pemetaan satu-satu.
Artinya, ada orang yang tua-renta tidak pikun, dan ada orang pikun yang masih
muda usianya. Makanya, harus kita cari ayat-ayat yang menyatakan tidak tahu
sesuatu pun apa yang pernah diketahuinya itu dalam kaitan yang lain. Ternyata,
pada ayat 78 disebutkan bahwa kalimat tersebut terkait dengan pernyataan dikeluarkan
dari perut ibumu. Artinya, tidak tahu sesuatu pun itu dimiliki oleh bayi yang baru
dilahirkan. Dan, di ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kondisi ini disebut
kebangkitan! Dus, kebangkitan seseorang itu ada di bumi ini, yaitu keluar dari
perut ibu.
Ya, kebangkitan adalah kelahiran. Dan, ini cocok dengan makna bangkit itu
sendiri. Yaitu, bangkit sebagai manusia kembali. Dengan adanya kebangkitan atau
kelahiran itu, maka orang yang telah mati, dan tulang-belulangnya telah hancur,
akan hidup kembali sebagai ciptaan yang baru yang disangkal oleh orang-orang
Arab pra-Islam.
Maka, kiamat dalam pengertian kita selama ini sebenarnya kelahiran kembali.
Inilah yang disebut reinkarnasi. Dan, kehidupan dunia yang kita alami saat ini
adalah akhirat bagi kehidupan masa lalu. Siksa dan pahala yang dialami saat ini
merupakan buah perbuatan pada kehidupan masa lalu. Namun Tuhan itu rahman dan
rahim, sehingga manusia dapat melanjutkan perjalanannya untuk kembali
kepada-Nya.
Jika pada kedua ayat tersebut masih samar-samar dan memerlukan kejelian dalam
membacanya, maka pada Surah Yaasiin [36]: 68 yang biasa dibaca oleh orang Islam pada
berbagai kesempatan, hal reinkarnasi itu lebih jelas lagi. Bunyi terjemahan
ayatnya, Dan barangsiapa yang Kami panjangkan hidupnya niscaya Kami kembalikan
pada kejadiannya. Apakah mereka itu tidak memikirkannya?
Perhatikan! Pemanjangan hidupnya di bumi ini niscaya diikuti dengan kembalinya
pada kejadiannya. Yaitu, dilahirkan sebagai bayi! Tapi, meski sudah
terang-benderang maknanya, hampir penerjemah Alquran standar memberikan catatan
kaki bahwa itu dikembalikan menjadi lemah dan kurang akal. Jelas, ini orang
yang ngawur! Mana ada panjang umur selalu diikuti dengan lemah dan kurang akal?
Sepikun-pikunnya atau kurang akalnya orang tua, masih lebih cerdas daripada
bayi. Sebagaimana sudah dijelaskan bahwa orang yang telah lanjut usianya belum
tentu pikun. Beberapa kepala negara malah masih aktif memimpin, meski umurnya
sudah di atas 80 tahun.
Tetapi, banyak orang yang baru berusia 60 tahun sudah menunjukkan gejala kepikunan.
Apa arti dikembalikan pada kejadian. Bukankah kejadian manusia itu berawal dari
seorang bayi? Bagaimana mungkin mereka memahami kejadian sebagi lemah dan
kurang akal? Rupanya, mereka itu perlu dididik biologi, agar mereka memahami
arti kejadian manusia hingga wafatnya. Mereka perlu diajari membaca kamus dan
struktur kalimat bahasa Indonesia. Untuk apa? Agar kalau ada kalimat tidak
mengetahui sesuatu pun tidak diterjemahkan pikun. Bahasa untuk pikun itu ada di
setiap bangsa. Karena, pikun merupakan fenomena yang menimpa orang tua atau
lanjut usia.
Bahkan karena sesuatu gangguan, ada orang-orang yang kehilangan ingatan terhadap
apa yang pernah diketahuinya. Mereka ini tidak terkait dengan batasan usia.
Tapi, hal ini disebabkan oleh gangguan pada saraf otaknya. Ini kasus! Sehingga,
hal semacam ini tidak dimasukkan dalam ayat. Maka, kalimat tidak mengetahui
sesuatu pun harus dicarikan kaitannya pada ayat yang lain. Ini yang namanya
menafsirkan ayat Alquran dengan ayat Alquran lainnya. Inilah penafsiran yang
paling valid! Kemudian, kalau kita melihat Surah Yaasiin di atas, ayat 68 itu ditutup
dengan kalimat apakah mereka tidak memikirkan.
Kalau kita dalam hidup sehari-hari ini menjumpai sesuatu yang lazim, maka
kita tak perlu memikirkan maknanya. Kita baru memikirkan sesuatu jika kita
ingin mengetahui makna di balik kejadian yang tampak itu.
Reinkarnasi dalam Hadis.
Selain ayat-ayat Alquran, indikasi adanya reinkarnasi itu dapat kita
temukan dalam beberapa Hadis. Di bawah ini saya cuplikkan beberapa Hadis yang
ada kaitannya dengan reinkarnasi :
Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang gugur di jalan
Allah, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, kemudian dihidupkan lagi lalu
gugur lagi, niscaya ia tidak dapat masuk surga sebelum melunasi hutangnya. (H.R.
Nasai)
Orang yang berhutang itu dibelenggu dalam kuburnya, tiada yang dapat melepaskannya
selain ia membayar hutangnya. (H.R. Dailami)
Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak dapat ditutupi oleh salat,
puasa, haji dan umrah. Yang dapat menutupinya hanyalah duka-cita (kesulitan)
dalam hidup mencari rezeki. (H.R. Ibnu Asakir)
Pertama, meskipun gugur berkali-kali tapi bilamana belum melunasi hutangnya,
ia tak akan masuk surga. Perhatikan, kata gugur berkali-kali dan hutang. Secara
sederhana umat Islam menerjemahkan hutang itu dalam arti hutang harta-benda.
Tidak sepenuhnya benar! Yang jelas, hutang harta-benda itu bagian dari hutang
perbuatan (karma).
Dan lagi, pada kalimat di atas tidak dinyatakan kecuali jika ada hutang,
keluarganya melunasinya. Kalimat ini tidak ada. Yang ada, justru menegaskan
bahwa yang gugur itulah yang melunasinya. Jadi, hutang itu tidak dapat dilunasi
orang lain. Seseorang tidak menanggung beban atau dosa orang lain. Setiap orang
akan menanggung dosanya sendiri. Itulah yang dijelaskan di berbagai ayat
Alquran.
Kedua, hidup susah dalam mencari rezeki adalah cara untuk menutupi dosa-dosa.
Coba, dosa dari mana? Kalau hidup sekarang ini merupakan hidup yang pertama
kali, maka tidak adil kiranya bila ada orang yang dilahirkan menderita di
kolong jembatan. Padahal, Tuhan sudah menyatakan dengan tegas bahwa Dia tidak
menzalimi hamba-hamba- Nya. Banyak sekali di dunia ini orang yang hidupnya
menderita semenjak dilahirkan di bumi ini. Menurut Hadis di atas, penderitaan itu sebenarnya untuk menutupi
dosa-dosanya. Dan, dosa-dosa itu sendiri tidak dapat ditutupi oleh ibadah formal.
Dosa yang tidak bisa dihapus dengan cara salat, puasa, umrah dan haji. Ini
tentu saja dosa yang berat. Sehingga perbuatan ibadahnya pun tak bisa
menghapusnya. Dosanya hanya hapus bila dia dilahirkan kembali di bumi ini
sebagai orang yang hidup menderita!